Rabu, 23 Oktober 2019



Indar Jaya : Jejawan Masyarakat Suku Sasak



Petualangan kami untuk mencari jejak sejarah, kami lakukan pada hari ahad pukul 08.00 WITA. Mulanya aku berangkat dari rumah menuju rumah Elia, salah seorang temanku. Rencananya aku dan Elia beserta tiga teman lainnya akan mencari jejak naskah kuno masyarakat suku sasak. Sebelumnya, berdasarkan informasi dari Salma, katanya ada lelaki paruh baya yang mempunyai naskah kuno. Ia sering berkunjung ke rumah Salma, di Dusun Beber  Desa Mantang Kecamatan Batu Kliang, Lombok Tengah. Jadi kami memutuskan untuk memulai petualangan kami dari bapak paruh baya itu.
Kami pun berangkat dengan mengendarai motor masing-masing. Di sepanjang perjalanan aku teringat perkataan salah seorang teman kelasku. Katanya kalau kita hendak mencari tahu tentang naskah kuno, kita dianjurkan untuk berdzikir dalam perjalanan agar iman kita kuat dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Awalnya aku kira itu hanya omong kosong tetapi ketika di perjalanan menuju rumah Salma, aku berdzikir. Sekitar 15 menit kemudian kami berhenti di pertigaan jalan raya Mantang. Elia berkata, “Aku Cuma tau rumahnya salma sampai sini doang.” “ ya sudah telpon salma.” Usulku. Seraya Elia menghubungi Salma, aku sejenak mengecek gawaiku.  Selang beberapa menit kemudian Elia menyalakan motor sambil berkata “ Katanya kita disuruh lolos”. Ku masukkan gawaiku lalu mengikuti instruksi Elia.
Jalanan yang berkelok, rimbunan pohon bambu menghiasi sepanjang jalan. Selain itu, jalanannya tidak seperti di desaku, jalan yang mulus dilapisi aspal. Pemandangan sekeliling nampak khas desa, dikitari sawah, udara yang sejuk, suasana yang sunyi. Sekitar sepuluh menit kemudian kami tiba di rumah Salma.  Kami disambut bapaknya Salma. Lalu kami duduk di beranda depan untuk melepas lelah. Kami berbincang-bincang mengenai kelanjutan rencana “petualangan” kami. Di samping itu, kami pun masih menunggu Jannah dan Febri. Mereka bilang masih dalam perjalanan menuju rumah Salma. Hampir tiga puluh menit Jannah dan Febri belum datang juga. Akhirnya karena takut narasumber pergi maka kami memutuskan untuk meninggalkan Jannah dan Febri. Selain itu, bapaknya Salma juga mengatakan bahwa narasumber yang akan kami datangi ada acara pagi ini. Kami jalan terlebih dulu di tuntun Salma dan bapaknya. Ada sedikit rasa tidak enak hati meninggalkan Jannah dan Febri tapi apa mau dikata, waktu yang cukup singkat mengharuskan kami mengambil tindkan seperti itu. Semoga Jannah dan Febri tidak marah, harap kami cemas.


Sampailah kami di kediaman Pak Muhtah. Narasumber kami tinggal di dusun Telaga Waru, desa Jago, Kecamatan praya, Lombok Tengah. Kami duduk di berugak depan rumah beliau. Beliau mengeluarkan naskah kuno yang terbuat dari daun lontar. Naskah tersebut ditulis menggunakan huruf kawi jejawan. Beliau memaparkan naskah tersebut dinamakan jejawan. Kata jejawan  berasal dari kata jajauqan yang artinya barang bawaan. Konon, kata ini muncul karena dulu nenek salah seorang leluhur masyarakat sasak pergi ke pulau Jawa untuk berguru. Kemudian Ia membawa naskah tersebut ke Lombok untuk didalami isi; kandungannya. Hal ini bukan karena orang Jawa tidak dapat mengartikan naskah tersebut. Akan tetapi, Ia hanya ingin mengkaji lebih dalam isi dan makna yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu dinamakan jejawan oleh masyarakat sasak.  Jejawan tersebut diamakan Indar Jaye. Indar artinya tidak menghindar; tetap. Jaya artinya kejayaan; keimanan. Jadi, indar jaya artinya ketetapan iman pada manusia. Dengan kata lain,  bagaimana manusia tetap beriman terhadap Tuhan  yang maha Esa.  


Ditengah penjelasan Pak Muhtah, Jannah dan Febri datang. Pak Muhtah menyambut mereka dengan senyuman seraya mempersilakan mereka untuk bergabung bersama kami. Kemudian Pak Muhtah menlajutkan kembali penjelasannya mengenai indar jaya. Kata Beliau indar jaya dulunya dipakai pada acara gawe pati dan gawe urip. Gawe pati misalnya nyiwak ( hari kesembilan setelah kematian), maulidan, dan sunatan. Sedangkan gawe urip, misalnyya nyongkolan, begawe dan sebagainya.
Dahulu, jejawan indar jaya ketika akan dipakai, perlu dilakukan ritual misalnya menyediakan andang-andang( beras dalam baskom kemudian uang seikhlasnya, dan dilengkapi sirih, serta buah pinang). Selanjutnya untuk membaca indar jaya dapat  memakan waktu berjam-jam lamanya. Jika indar jaya dibaca setelah salat isya maka akan selesai sekitar jam tiga atau empat subuh. Indar jaya sendiri mengandung isi ketauhidan. Bagaimana manusia beriman ke Tuhannya melalui hati yang lurus.. Selain itu terkandung pula bagaimana bertutur kata serta berperilaku kepada manusia lainnya.
Jejawan indar jaya terdiri dari beberapa jenis tembang atau lagu yaitu :
  1.   Sinom
  2.   Pengkur 
  3. Dang-dang
  4. Pak Puncung
  5.             Kumambang
Selain jejawan indar jaya, ada pula jejawan lain misalnya : hikayat nur, markum, kertaneh, puspa karma, jati suara, dan anak kidung. Pak Muhtah selaku narasumber menjelaskan bahwa hikayat nur berisikan tentah ihwal nabi Muhammad Salallahu ‘alaihiwassalam.  Akan tetapi, jejawan-jejawan lainnya tidak dijelaskan lebih lanjut karena waktu yang tidak memungkinkan. Selain itu, karena umur bapak Muhtah sudah tua, beliau hanya dapat menggambarkan jejawan indar jaya secara umum. Beliau juga tidak dapat melantunkan indar jaya karena penglihatan beiau yang kabur.
Namun  “secuil” informasi dari Pak Muhtah layaknya emas bagi kami, sedikit tetapi berharga. Informasi tersebut mampu membuka wawasan kami bahwa ketauhidan memang sudah diajarkan sejak dulu, perihal bagaimana bertutur kata dan bertingkah laku terhadap manusia lainnya juga sudah diajarkan. Akan tetapi mengapa masih banyak manusia yang mendustai Tuhannya lalu bersikap sombong terhadap sesamanya?
Semoga tulisan ini mampu menyentil kesadaran kita untuk senantiasa beriman kepada sang Pencipta serta saling mengasihi antar sesama. bukankah Tuhan menciptakan kita untuk saling mengenal dan mengasihi sebagai bentuk keimanan kita terhdap-Nya?

Terima Kasih