Petualangan
kami untuk mencari jejak sejarah, kami lakukan pada hari ahad
pukul 08.00 WITA. Mulanya aku
berangkat dari rumah menuju rumah Elia, salah seorang temanku. Rencananya aku dan Elia beserta tiga teman lainnya akan
mencari jejak naskah kuno masyarakat
suku sasak. Sebelumnya, berdasarkan informasi dari
Salma, katanya ada lelaki paruh baya
yang mempunyai naskah kuno. Ia sering berkunjung ke rumah Salma, di Dusun Beber Desa Mantang Kecamatan Batu Kliang, Lombok Tengah. Jadi kami memutuskan untuk memulai
petualangan kami dari bapak paruh baya itu.
Kami pun berangkat dengan mengendarai motor masing-masing. Di
sepanjang perjalanan aku
teringat
perkataan salah seorang teman kelasku.
Katanya kalau kita
hendak mencari
tahu tentang naskah kuno,
kita dianjurkan untuk berdzikir dalam
perjalanan agar
iman kita kuat dan tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan. Awalnya aku kira itu hanya omong kosong tetapi ketika di perjalanan
menuju rumah Salma, aku berdzikir. Sekitar
15 menit kemudian kami berhenti di pertigaan jalan raya Mantang. Elia berkata, “Aku Cuma tau rumahnya
salma sampai sini doang.” “ ya sudah telpon salma.” Usulku. Seraya Elia menghubungi Salma, aku sejenak
mengecek gawaiku. Selang beberapa menit kemudian Elia menyalakan motor sambil berkata “ Katanya kita disuruh
lolos”. Ku masukkan gawaiku lalu mengikuti
instruksi Elia.
Jalanan yang berkelok, rimbunan
pohon bambu menghiasi sepanjang
jalan.
Selain itu, jalanannya
tidak seperti di desaku,
jalan yang mulus dilapisi aspal. Pemandangan sekeliling nampak khas desa, dikitari sawah, udara yang sejuk, suasana yang
sunyi. Sekitar sepuluh menit kemudian kami tiba
di rumah Salma. Kami disambut bapaknya Salma. Lalu kami duduk di
beranda depan untuk melepas lelah. Kami
berbincang-bincang mengenai kelanjutan rencana “petualangan” kami. Di samping
itu, kami pun masih menunggu Jannah dan Febri. Mereka bilang masih dalam
perjalanan menuju rumah Salma. Hampir tiga puluh menit Jannah dan Febri belum datang juga.
Akhirnya karena takut narasumber pergi maka kami memutuskan untuk meninggalkan Jannah dan Febri. Selain itu, bapaknya Salma juga mengatakan bahwa
narasumber yang akan kami datangi ada acara pagi ini. Kami
jalan terlebih dulu di tuntun Salma dan bapaknya. Ada sedikit rasa tidak enak hati meninggalkan Jannah
dan Febri tapi apa mau dikata, waktu yang cukup singkat mengharuskan kami
mengambil tindkan seperti itu. Semoga Jannah dan Febri tidak marah, harap kami
cemas.
Sampailah kami di
kediaman Pak
Muhtah. Narasumber kami tinggal di dusun Telaga Waru, desa
Jago, Kecamatan praya, Lombok Tengah. Kami duduk di berugak depan rumah beliau. Beliau mengeluarkan naskah kuno yang
terbuat dari daun lontar. Naskah tersebut ditulis menggunakan huruf kawi
jejawan. Beliau memaparkan
naskah tersebut dinamakan jejawan. Kata jejawan berasal dari kata jajauqan yang artinya
barang bawaan. Konon, kata ini muncul karena dulu
nenek salah seorang leluhur masyarakat sasak
pergi ke pulau Jawa untuk berguru. Kemudian Ia membawa naskah tersebut
ke Lombok untuk didalami isi; kandungannya. Hal ini bukan karena orang Jawa
tidak dapat mengartikan naskah tersebut. Akan tetapi, Ia hanya ingin mengkaji
lebih dalam isi dan makna yang terkandung di dalamnya. Oleh
karena itu dinamakan jejawan oleh masyarakat sasak. Jejawan
tersebut diamakan Indar Jaye. Indar artinya
tidak menghindar; tetap. Jaya artinya kejayaan;
keimanan. Jadi,
indar jaya
artinya ketetapan iman pada manusia.
Dengan kata lain, bagaimana manusia tetap
beriman terhadap Tuhan
yang maha Esa.
Ditengah penjelasan Pak Muhtah, Jannah dan Febri datang. Pak Muhtah menyambut mereka dengan senyuman seraya mempersilakan mereka untuk bergabung bersama kami. Kemudian Pak Muhtah menlajutkan kembali penjelasannya mengenai indar jaya. Kata Beliau indar jaya dulunya dipakai pada acara gawe pati dan gawe urip. Gawe pati misalnya nyiwak ( hari kesembilan setelah kematian), maulidan, dan sunatan. Sedangkan gawe urip, misalnyya nyongkolan, begawe dan sebagainya.
Dahulu, jejawan indar jaya ketika akan dipakai,
perlu dilakukan ritual misalnya menyediakan andang-andang(
beras dalam baskom kemudian uang seikhlasnya, dan dilengkapi sirih, serta buah pinang). Selanjutnya untuk membaca indar jaya dapat memakan waktu berjam-jam lamanya. Jika indar
jaya dibaca setelah salat
isya maka akan selesai
sekitar jam tiga atau empat subuh. Indar jaya
sendiri
mengandung isi ketauhidan. Bagaimana
manusia beriman ke Tuhannya melalui hati yang lurus..
Selain itu terkandung pula bagaimana
bertutur kata serta berperilaku
kepada manusia lainnya.
Jejawan indar jaya terdiri dari beberapa
jenis tembang atau lagu yaitu :
- Sinom
- Pengkur
- Dang-dang
- Pak Puncung
- Kumambang
Selain jejawan indar
jaya, ada pula jejawan
lain misalnya : hikayat nur, markum,
kertaneh, puspa karma, jati suara, dan anak kidung. Pak
Muhtah selaku narasumber menjelaskan bahwa hikayat nur berisikan tentah ihwal
nabi Muhammad Salallahu ‘alaihiwassalam. Akan tetapi, jejawan-jejawan lainnya tidak
dijelaskan lebih lanjut karena waktu yang tidak memungkinkan. Selain itu, karena
umur bapak Muhtah sudah tua, beliau hanya dapat menggambarkan jejawan indar
jaya secara umum. Beliau juga tidak dapat melantunkan indar jaya karena
penglihatan beiau yang kabur.
Namun “secuil” informasi dari Pak Muhtah layaknya
emas bagi kami, sedikit tetapi berharga. Informasi tersebut mampu membuka
wawasan kami bahwa ketauhidan memang sudah diajarkan sejak dulu, perihal
bagaimana bertutur kata dan bertingkah laku terhadap manusia lainnya juga sudah
diajarkan. Akan tetapi mengapa masih banyak manusia yang mendustai Tuhannya
lalu bersikap sombong terhadap sesamanya?
Semoga
tulisan ini mampu menyentil kesadaran kita untuk senantiasa beriman kepada sang
Pencipta serta saling mengasihi antar sesama. bukankah Tuhan menciptakan kita
untuk saling mengenal dan mengasihi sebagai bentuk keimanan kita terhdap-Nya?
Terima Kasih


